[NewBlogPost] Seriously. #PerempuanBerHak

image

Malam tadi, saya baru saja ikutan nonton #PerempuanBerHak. Pertama kali dengar dari twiter, cuman lupa dari akun siapa, karena saya follower salah tiga dari mereka. Dari namanya, agak bisa ditebak kalau yang ngisi adalah perempuan: Sakdiyah, Fathia, Jessica, Alison, Ligwina, dan Gamila.

Seneng banget pas denger acara dengan judul tersebut. Sekarang-sekarang ini udah jarang banget ngikutin standup lokal dengan komika-komika baru. Dulu awal banget pas masih rajin nonton standup di Youtube, inget banget Kak Miund jadi salah satu komika cewe idola. Sejak itu belum nemu lagi komika cewe yang disuka. Jadi ketika tahu akan ada acara #PerempuanBerHak, sungguh rasanya seperti ketemu abang ojek online yang ganteng, wangi, single, pilihan lagunya bagus, tanpa banyak kata, dan tahu jalanan. Langka.

Ditambah lagi, semua orang tahu perempuan adalah makhluk yang paling komplit alias kompli(t)keted. Banyak keresahan-keresahan yang dipikirkan dan dialami. Tapi kok jarang ada yang menyuarakan keresahan-keresahan ini, ya. Kami standup-material banget lho, gaes.

Ya ada sih komika lelaki yang kadang menyuarakan keresahan (tentang) perempuan. Tapi maksudnya yang dari sudut pandang perempuan sendiri belum banyak yang tampil, dan menceritakan di depan publik, in a funny way.

Dari keenam orang itu yang familier bagi saya adalah kak Sakdiyah, mbak Gamila, dan teh Ligwina. Pertama tahu Kak Sakdiyah, dari nonton youtube pas dia ngisi di TEDx dan pas speech di luar negeri…gitu. Malah dari situ saya baru tahu kalau dia pernah ikutan standup KompasTV.

Kalau Teh Ligwina, saya follow dia bukan karena lucu, tapi karena baca bukunya tentang, Untuk Indonesia yang Kuat. Itu buku asik banget. Nah kalau Mbak Gamila, saya tahunya karena twiternya yang suka absurd, dan tentu saja alasan sejuta umat: karena dia istri mas Pandji.

Oh saya suka albumnya, dan lagunya Indonesian Girl (video klipnya, kece!). Tapi sejak tiga bulan terakhir saya jadi lebih suka Mbak Mila daripada Mas Pandji.

Yeah, you know why…

Don’t get me wrong, kemarin saya nonton standup mas Pandji yang di Kokas dan punya beberapa bukunya, kok. Apakah kini sudah saatnya kalau ditanya: Mas Pandji yang mana sih, saya akan jawab: oh itu lho suami Mbak Gamila. (?)

Dari keenam performer yang paling nggak tahu itu Teh Alison sama mbak Fathia, sih. Baru dengar di acara #PerempuanBerhak ini, malah. Kalau Kak Jessica, sekitar beberapa tahun lalu kalau nggak salah pernah lihat waktu nonton standup di TIM, dalam rangka hari senyum sedunia atau hari anti stres gitu. Waktu itu komikanya ada Koh Ernest, Mas Ryan, dan Bang Sammy.

#PerempuanBerHak dibuka dengan perform Mbak Gamila, yang mencuri perhatian banget. Ditambah sama kolaborasi Yacko dan rombongan pemuda-pemudi yang bawa-bawa spanduk. Hanya saja pembukaannya sedikit kurang nendang, karena teknis yang agak mengganggu.

Pas bagian Mbak Mila bawain acara, di situ saya bingung, itu lagi stand up atau bawain acara?

Soalnya kalau dibilang bawain acara, itu ngomong pake punchline semua. Tapi kalau diitung standup, itu kependekan sih. :\

Habis itu datanglah kak Sakdiyah, yang sudah internationally acclaimed *eaa. Oh ya 2 orang di antara penampil malam itu memakai bahasa inggris. Kak Sakdiyah salah satunya. Saya curiga, salah satu misi #PerempuanBerhak malam itu adalah mempersiapan tenaga kerja yang siap bersaing internasional.

Seperti biasa, bit-bitnya kak Sakdiyah jadi favorit karena lucunya nggak langsung terasa. Semacam lucunya itu lucu secara akademik gitu.. (bebas). Antara butuh waktu mencerna lucunya yang emang butuh dipikir sama kelamaan mikir karena harus ditranslate dulu.

Dan bit paling favorit saya keluar lagi malam itu. Tentang ayahnya yang “ternyata mendukung” lesbianisme. Saya selalu ketawa walau pernah dengar sebelumnya. Saya muslim pakai hijab, walau bukan keturunan Arab, tapi banyak materi Kak Sakdiyah yang sering banget saya alami sehari-hari.

Kayak contohnya materi tiap ditanya alasan pakai hijab. Juga materi yang sering dianggap tabu: kehidupan-pernikahan-material, misalnya. Banyak orang pikir bahwa perempuan berhijab itu nggak tahu apa-apa. Andai mereka tahu yang sebenarnya, alasan kenapa kami nutupin kepala pakai hijab.

Karena isi kepalanya lebih horor ketimbang isi yang ditutupin jilbab, salah satunya.

I love you, Kak Sakdiyah!

Penampilan kedua yang datang itu Kak Jess.

To sum up, bisa saya bilang materi Kak Jes adalah, sex education in fun way. So much fun.

Go get her, if you wanna teach your kids about sex-edu.

Udahlah pasti anak-anak kicik ga akan norak lagi tiap kali denger kata alat kelamin disebut. Tapi mungkin mereka bakalan norak, kalau lihat acar. (cuma yang nonton yang paham)

Habis kak Jess lalu datang Kak Fathia, salah satu yang saya baru dengar namanya.

Tapi, saya langsung suka ketika, tepat pertama kali Kak Fathia memperkenalkan diri.

I am single……by choice.

God’s choice, not mine.

Whoaaaa. Yak sip, i love you kak Fathia!

*Langsung daftar paguyubannya.

Materi Kak Fathia lebih banyak tentang keresahannya menjalani hari-hari sebagai perempuan Indonesia yang belum menikah. Di materi ini tiap kak Fathia ngebahas tentang perempuan lajang, teman di sebelah saya selalu setuju dengan sangat bersemangat dan yang paling kenceng ketawa…

…bareng-bareng sama saya.

Karena sudah terbukti secara empiris, di Indonesia kalau kamu perempuan lajang, bodo amat udah bergelar profesor, atau bahkan udah berhasil terbang ke bulan, tetep aja pertama kali dan yang paling banyak ditanya di setiap acara kumpul keluarga adalah, kapan nikah?

..oleh salah satu tante yang sudah berumur dan belum menikah juga, contohnya.

My true story. Kalimat terakhir, bukan yang berhasil terbang ke bulan, atau bergelar profesor. Cuma memperjelas aja.

Setelah Kak Fathia datanglah Teh Alison. Bule Bandung yang walau bule tapi standupnya tetep pakai Bahasa Indonesia. *Kasih selamat mas-mas yang duduk di sebelah.

Saya agak bingung sama mas-mas sebelah saya, pas materi kak Sakdiyah dan Kak Fathia, tiba-tiba mereka pendiam. Apakah lelucon mereka berdua, not their cup of tea?

Semua terjawab pas yang tampil Kak Jes, Teh Alison, dan Teh Ligwina. Mereka ketawa kenceng banget. Yeahright.

Materi Kak Alison banyak nyeritain tentang pengalaman love life-nya yang sebenarnya ini nggrantes lho, tapi kok malah diketawain bareng-bareng seruangan. Ini penonton agak kurang ajar, memang.

Dan terakhir, yang jadi closing adalah Teh Ligwina.

Ini komika paling favorit, dari semua yang favorit. Materi awal tentang cahaya purnamanya sudah berhasil bikin penonton craving for her next joke. Berasalah materi tentang Pilkada ini adalah materi yang paling emosi menguras hati. Ehehe.

Dari sekian materi Teh Ligwina, yang paling kena adalah materi tentang Cinderella. Itu keresahan saya juga!

Bagaimana bisa, Cinderella ninggalin sepatunya gitu aja, ya walaupun itu sepatu dari ibu peri yang mungkin aja bakalan lenyap, tapi tetep aja kaaann sepatu! Ditinggalin! Mana ini sepatu pesta pula kan, pasti kan heels ya, dan pasti cantik dan mahal! Nanti nggak akan diproduksi lagi, lho!

(sabar mbak, sabar)

Akhirnya ada yang sama-sama mengerti dan menyuarakan. Makasih, Teh!

Kalau kata milenial instagram, penampilan Teh Ligwina malam kemarin mah, SLAY!

Dari #PerempuanBerHak ini yang bikin kaget adalah, WAW standup para perempuan ni ternyata lebih “liar dan garang” daripada standup (yang komikanya laki-laki) yang pernah saya lihat, ya! Kalau ada televisi yang mau nayangin, sepertinya acaranya bakalan banyakan iklan daripada standupnya sendiri.

Malah bisa jadi, standupnya yang jadi jeda, dengan iklan sebagai acara intinya. Saking nggak aman dari sensor.

Walau standup udah kelar tapi masih nemu hal-hal menarik setelahnya. Semua masuk panggung, duduk bareng, dan buka sesi tanya-jawab sama penonton, yang awalnya saya pikir itu cuma guyon waktu Mbak Mila bilang bakal ada sesi Q&A.

Ada satu mbak-mbak yang keturunan Arab juga yang malah curhat ke Mbak Sakdiyah,

dan jawaban Mbak Sakdiyah sebenarnya jawaban untuk semua perempuan lajang yang udah diburu-buru nikah, karna katanya udah umurnya (apalagi yang udah mendekati lewat masanya, menurut perhitungan lingkungan sosial):

Buat yang masih jomlo: Hang in there.

Ya, karena nggak ada pilihan lain, bro.
Just. Hang in there.
HAAHahahhahAHhahahahah~~~~~~

Juga jawaban mereka atas pertanyaan, kenapa mereka bisa selucu itu,

dan jawaban mereka adalah: karena penderitaan hidup+bitterness, dan keputusan untuk ajak-ajak buat diketawain aja. *standing ovation*

Oh #PerempuanBerHak cocoklah jadi panutan, ngetawain nasib sendiri itu aja udah #lifegoals. Apalagi ini ngajakin orang-orang buat ngetawain bareng. Orang-orangnya disuruh bayar pula, apa sebutannya coba? #beyondlifegoals (?) #lifegoalsception (?)

Datang ke acara #PerempuanBerHak bikin saya merasa bukan seperti datang ke pertunjukan serius yang formal, tapi lebih seperti datang ke gigs idola yang nyantai yang isinya temen-temen sefrekuensi becandaan. Jadi kayak ngobrol tapi tanpa ngobrol. Gimana ya ngejelasinya. Gitulah, cuman bisa dirasain, emang.

Kalau ngomongin kekurangan acara sih lebih ke teknis yang bikin agak kecewa. Kayak waktu mulai yang molor, open gate yang nggak sesuai sama info, terus ga ada LO yang ngatur antrian, meski antriannya rapi dan tertib. Sama pas awal perform Mbak Gamila. Duh itu sayang banget, layar di sebelah kiri masih muter iklan, jadi distraksi sama panggung yang udah mulai.

Oh lalu pas performernya Kak Fathia, ada meja dengan dua botol air mineral yang dibawa masuk panggung, tapi lalu dibawa keluar lagi. Itu antara lupa mau dipake, atau memang cuma buat naruh aqua gelas aja, ya?
Atau jangan-jangan simbol, yang saya nggak tahu? Hmm.

Cuman ya kekurangan yang ada malam itu terlupakan dengan penampilan yang pas banget nggambarin isi pikirannya para perempuan: yang isinya macem-macem, banyaknya naudzubillah, dan ruwet kayak Tanah Abang setelah Pilkada. *eaa*takadungces*.

200ribu untuk tiket #PerempuanBerHak terbayar lunas dengan ketawa puas.

Ada satu hal lagi bahasan yang saya suka dari Mbak Gamila, bahasan tentang jawaban dari pertanyaan: sebenarnya laki-laki yang feminis itu laki-laki yang seperti apa.

Kurang lebih jawaban Mbak Gamila,

adalah lelaki yang melihat dia (perempuan) bukan dari kelaminnya. Tapi dari isi pikirannya, ide-ide, opininya.

Dan sebenarnya nikah bukan buat cari suami atau cari istri. Tapi ya cari bestfriend.

*mbrambangi*nangis di bahu jalan*

Walau katanya Mbak Mila ga tau kenapa orang-orang pada nikah, selain karena tuntutan sosial. *di sini saya ingin berkata huwooooo*

Tapi asli lah, couldn’t agree more.

#PerempuanBerHak jadi salah satu alasan lagi,

bahwa memang dari awal #PerempuanBerHak melakukan apa saja yang mereka mau, memakai apa saja yang mereka inginkan.

Nonton #PerempuanBerHak pakai sepatu yang nggak ada haknya, misalnya. Dan ya, perempuan (dan siapa pun) memang berhak untuk do/become/wear anything they want.

#PerempuanBerHak Menjura, lah!

 

Terakhir: we need female comic, more!

Seriously.

 

 

Advertisements
[NewBlogPost] Seriously. #PerempuanBerHak

One thought on “[NewBlogPost] Seriously. #PerempuanBerHak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s